Skandal Aini Mahasiswi Kedokteran Universitas Negeri yang Bertoket Montok

Link Banner

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat mahasiswa-mahasiswa jurusan lain sudah sedari tadi beristirahat di rumah dan kost masing-masing, namun tidak dengan para mahasiswa kedokteran itu. Mereka baru saja menyelesaikan kuliah praktikum. Tubuh dan pikiran mereka begitu lelah. Yang mereka inginkan sekarang adalah segera pulang dan beristirahat.

Tidak bedanya dengan gadis itu. Ia juga merasakan hal yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain. Baginya kuliah kedokteran itu memang melelahkan. Kuliah dari pagi sampai sore, tak jarang malamnya lanjut praktikum. Hampir tidak ada waktu untuk bersantai. Namun untuk malam itu, kegiatannya masih belum berakhir. Ia tidak bisa langsung pulang dan beristirahat di kost. Meski kegiatan di kampus sudah selesai, tapi gadis itu masih ada kegiatan lain. Ia sudah ada janji dengan seseorang.

Bersama dengan para mahasiswa lain, gadis cantik itu melangkah keluar ruangan menuju parkiran di depan fakultas dengan terburu-buru. Biasanya dia selalu membawa mobil sendiri, tapi tidak untuk hari ini karena dirinya sudah ada yang menjemput. Orang yang membuat janji dengannya sudah menunggunya di parkiran.

“Hai!” tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya. Gadis itu menoleh, rupanya teman akrabnya sesama jurusan.

“Clarisa, ada apa?” tanya gadis itu sambil terus melangkah. Clarisa ikut mengiringi langkah cepat gadis itu.

“Kita cari makan yuk? Bareng sama anak-anak lain,” ajak Clarisa. Gadis itu sebenarnya memiliki banyak teman, tapi Clarisa adalah yang paling akrab. Clarisa merupakan teman curhat dan teman berbagi cerita baginya.

“Duh, sorry gak bisa ikutan, aku buru-buru nih...”

“Hmm... kamu ada janji lagi ya?” tebak Clarisa. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Iya, orangnya udah nungguin di parkiran, hehe...”

“Oke deh, gue temenin sampai parkiran, hihihi...” balas Clarisa menggandeng tangan gadis itu.

Astri Nuraini nama gadis itu. Panggilannya Aini. Seorang mahasiswi kedokteran semester 4. Umurnya masih 20 tahun. Dia gadis yang pintar. Wajahnya sangat cantik. Orangnya juga ramah dan suka bergaul. Namun dia memiliki rahasia yang dia tidak ingin orang terdekatnya tahu. Bahwa dia adalah seorang wanita penghibur.

Ya, Aini merupakan seorang pelacur meskipun berstatus mahasiswi kedokteran dari kampus ternama. Tubuh indahnya sudah sering dipakai oleh banyak laki-laki hidung belang. Jika tarifnya telah disepakati, Aini dengan kerelaan hati bersedia diapakan saja dan melakukan apa saja untuk memuaskan birahi pria-pria hidung belang tersebut. Dia tidak sungkan mentasbihkan diri sebagai boneka seks untuk pria yang memakai jasanya.

Aini biasanya menjajakan dirinya secara online. Pelanggan yang ingin memakai jasanya terlebih dahulu menghubunginya lewat sosial media. Aini beruntung memiliki wajah cantik dan tubuh yang indah sebagai asetnya. Dengan wajah cantik dan tubuh indahnya, Aini selalu kebanjiran order. Jika sedang senggang, dalam sehari dia bisa melayani hingga belasan pria. Demi kenyamanan dan keamanan, yang memakai jasanya hanya kalangan terbatas, hanya para pengusaha dan pejabat. Tarifnya bisa berjuta-juta hanya untuk satu kali kencan singkat. Bisa dikatakan, Aini seorang pelacur high class. Awalnya Aini dijajakan oleh mucikari. Dari ikut mucikari, Aini bisa mengenal dekat kliennya. Dari situ, dia bisa lepas dari mucikari dan berbisnis sendiri.

Aini sudah melakukan pekerjaan sampingan ini hampir satu tahun. Namun Aini melakukan semua itu bukan karena faktor ekonomi. Uang jajan dari ayahnya sebenarnya cukup untuk kebutuhannya sehari-hari. Bahkan ayahnya masih sanggup untuk membiayai kuliah kedokterannya. Namun gadis itu ikut-ikutan gaya hidup glamor. Lingkungan kampusnya yang diisi oleh mahasiswi-mahasiswi tajir membuatnya tidak ingin kalah bersaing. Aini merasa gengsi jika tidak memiliki barang-barang bermerk keluaran terbaru. Ainipun iseng mencoba menjajakan tubuhnya.

Setelah melakukannya sekali, dia justru ketagihan. Dari melonte, Aini bisa mendapatkan penghasilan sekaligus bisa menyalurkan nafsu seksnya yang tinggi. Aini juga senang bertemu macam-macam orang yang menjadi pelanggannya. Tiap orang punya cerita sendiri yang selalu membuat Aini antusias untuk mengetahuinya. Intinya, Aini hanya ingin bersenang-senang. Kapan lagi bisa ngentot enak, terus dapat uang banyak, pikirnya. Jadi kesempatan punya penghasilan lumayan sambil bersenang-senang tidak ingin dia sia-siakan.

Aini pernah dipakai oleh seorang pengusaha di Jepang. Dia dibiayai pergi ke Jepang untuk menemui pelanggannya. Dia terkejut saat mengetahui kliennya tersebut sudah menginjak kepala tujuh. Penis kliennya itu tidak disunat dan sudah berkerut. Walaupun begitu, kliennya tetap kuat dan mampu menggenjot vagina Aini dalam waktu nyaris dua jam. Bahkan Aini yang dibuat kewalahan hingga pingsan setelah orgasme berkali-kali. Selesainya, Aini langsung mendapatkan uang puluhan juta ditambah tips pribadi dari kliennya. Sayangnya Aini begitu konsumtif. Dia begitu begitu boros. Penghasilan yang didapatkannya dari menjajakan memek hanya dia gunakan untuk berfoya-foya. Uangnya selalu habis tak bersisa entah kemana.

Meskipun Aini tidak ingin orang terdekatnya tahu, tapi Clarisa akhirnya mengetahui rahasia sahabatnya itu. Waktu itu Clarisa memergoki Aini sedang bersama pria hidung belang di sebuah klub malam. Ainipun mengakui pekerjaan sampingannya itu pada Clarisa. Meskipun tidak menyangka Aini ternyata sangat nakal, tapi dia mencoba memakluminya. Itu pilihan yang diambil oleh sahabatnya. Dia tidak berhak ikut campur. Kebenaran tentang sahabatnya itu juga tidak serta membuat Clarisa menjauhi Aini. Pertemanan mereka tetap terjalin erat. Aini dan Clarisa sudah berteman sejak awal masuk kuliah. Karena sering bercerita dan saling curhat, merekapun semakin akrab. Bahkan mereka tidak sungkan untuk bercerita urusan seks.

Tak terasa mereka berdua sudah sampai ke parkiran. Clarisa lalu berpamitan pada Aini. Tapi baru beberapa langkah, Clarisa berbalik lagi menghadap Aini.

“Oh ya, kamu jadi kan mau pindah kost?” tanya Clarisa.

“Jadi dong, sudah ketemu?” Aini balik bertanya.

“Sudah, nanti aku kirim alamatnya.”

“Oke, makasih ya udah bantu nyariin, besok senin makan siang aku yang traktir deh...”

“Sip, ditunggu, hihihi...”

Aini kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. Ia duduk di bangku belakang bersama kliennya. Selain mereka, di mobil tersebut juga ada sang sopir yang duduk di bangku depan.

Aini kemudian melepaskan jas almamater serta membuka ikat rambutnya. Kini Aini hanya mengenakan tanktop putih dan celana jeans. Rambut panjang sebahu miliknya yang lurus bergelombang kini terurai indah.

“Hai... maaf ya sudah menunggu,” sapa Aini hangat.

“Iya, tidak apa-apa,” jawab laki-laki paruh baya itu. Pak Ibnu namanya. Aini tersenyum manis. Menatap senyum manis Aini membuat laki-laki itu bahagia. Dadanya berdebar kencang. Tanpa dia sadari penisnya juga telah ereksi di balik celananya. Semua itu hanya karena menatap wajah cantik Aini. Saat melihat lekuk tubuh Aini, terutama bagian buah dada Aini yang cukup besar seakan ingin menyembul keluar dari tanktopnya, pria itupun semakin kesengsem. Dia tidak sabar untuk menghabiskan waktu berdua dengan mahasiswi cantik itu. Dia ingin melampiaskan segala nafsu seksnya pada Aini.

“Mau susu? Sabar ya sayang... Jangan di sini, nanti boleh kok nyusu sepuasnya, hihi...” goda Aini tertawa kecil. Tawa renyah yang kembali membuat dada pria paruh baya itu bergetar. Dia sampai menelan liur mendengar ucapan gadis cantik itu. Tanpa menunggu lagi, pria itu segera menyuruh sopirnya tancap gas. Tujuan mereka tentunya adalah ke hotel. Sang sopir sendiri hanya bisa iri dengan bosnya itu. Sungguh enak jadi orang kaya, pikir sang sopir.

“Aini sayang sudah makan? Mau mampir ke restoran dulu?” tanya Pak Ibnu.

“Gak usah, tadi sebelum kuliah praktikum Aini sudah makan kok... Kalau makan lagi nanti Aini jadi gendut...” jawab Aini yang dibalas tawa Pak Ibnu.

“Pasti capek ya kuliah sampai malam?”

“Sudah biasa kok... Mas gak usah khawatir, Aini gak capek sama sekali kok... kalau kurang, besok pagi kita tambah lagi durasinya hihi,” balas Aini meyakinkan Pak Ibnu. Pria itu tersenyum lega. Dia tentu saja tidak ingin Aini dalam keadaan letih melayaninya. Begitupun dengan Aini. Dia tidak ingin mengecewakan pelanggannya. Aini harus selalu dalam kondisi fisik yang baik. Karena jika kondisi fisiknya kurang baik, moodnya pasti akan jadi jelek. Dan dia tidak ingin pelanggannya merasa kalau Aini lagi tidak mood. Oleh karena itu Aini rutin mengkonsumsi vitamin untuk menjaga kondisi tubuhnya. Dengan demikian Aini bisa beraktifitas dengan lancar, baik di kampus maupun di hotel bersama pelanggannya.

Saat malam, Aini lebih banyak menghabiskan waktu di klub malam. Menunggu para pelanggan yang akan dilayaninya yang kadang bisa sampai belasan orang dalam satu malam. Meski begitu, urusan kampusnya tetap lancar. Aini pintar dalam membagi waktu. Saat ada waktu kosong antara jam perkuliahan, dia akan menggunakannya untuk istirahat dan tidur. Lagi pula dia tidak selalu melakukan pekerjaan itu setiap hari. Ada kalanya ia hanya ingin beristirahat di kost.

Untungnya esok sudah akhir pekan. Aini tidak perlu bangun pagi-pagi untuk kuliah. Malam ini dia hanya ingin menikmati momen-momen erotis yang akan dialaminya bersama pelanggannya tersayang. Pria yang sedang menyewa jasa Aini saat ini sudah pernah memakai jasanya sebelumnya. Jika sudah pernah sekali memakai Aini, pria manapun pasti ketagihan untuk memakai jasanya lagi di kemudian hari, termasuk Pak Ibnu. Itu semua karena Aini selalu total dalam melayani pelanggannya. Selain fisiknya, sikap dan kepribadian Aini juga membuat laki-laki manapun jatuh cinta padanya. Mereka tidak seperti sedang memakai jasa wanita penghibur, tetapi merasa seperti dengan pasangan sendiri.

Memang layanan yang diberikan tergantung tarif yang disepakati. Jika ingin bebas menyetubuhinya dan muncrat di dalam, tentunya Aini mematok tarif lebih tinggi. Jika ingin tarif yang lebih murah, maka hanya sekedar mendapatkan blowjob, titfuck, maupun hal-hal mesum lainnya tanpa penetrasi. Tapi apapun kesepakatannya, Aini selalu memberikan layanan sebaik mungkin untuk pelanggannya. Tak sekalipun pernah ada pelanggan yang kecewa. Mereka semua puas dengan pelayanan Aini. Sampai-sampai pernah ada yang mengajak Aini untuk menikah. Tentu saja ditolak Aini karena dia masih ingin bersenang-senang. Terlebih gadis itu masih ingin menyelesaikan kuliah kedokterannya.

Setibanya di hotel, Aini dan Pak Ibnu langsung menuju kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Begitu pintu kamar ditutup, mereka langsung berciuman. Aini yang masih memakai tanktop dan celana jeans langsung ditelanjangi saat itu juga. Pak Ibnu sebenarnya sudah tidak tahan untuk langsung menggagahi gadis cantik itu, tapi Aini mengajak Pak Ibnu untuk mandi terlebih dahulu. Pak Ibnu tidak keberatan. Malam masih panjang. Toh dia sudah menyewa Aini untuk satu malam, dengan bebas muncrat dimanapun berkali-kali dan tanpa kondom. Tentunya tarifnya tidak sedikit, tapi pria itu justru merasa sangat beruntung karena bisa menikmati Aini sesuka hatinya untuk malam ini. Baginya uang berapapun rela dia keluarkan demi bisa berduaan bersama Aini sepuasnya.

“Ya... ya... mandi dulu, biar wangi, okeh?” celoteh Aini centil.

“Oke deh sayang,” balas Pak Ibnu.

Aini dan Pak Ibnu lalu mandi berdua. Yang satu mahasiswi muda, satunya lagi pria paruh baya. Mereka saling menyabuni dan menggosok tubuh satu sama lain. Aini dengan telaten memandikan pria itu bagaikan suaminya sendiri. Dia sabuni dan menggosok seluruh bagian tubuh Pak Ibnu tanpa ada bagian yang tertinggal. Sambil mandi berdua mereka mengobrol ringan. Suara tawa renyah Aini sesekali terdengar. Senyum manisnya tidak pernah tinggal mengiringi kata-kata yang diucapkannya.

Aini tidak hanya menyabuni Pak Ibnu dengan tangan seperti biasa. Dia juga menggunakan buah dadanya untuk menyabuni tubuh pria yang seumuran dengan ayahnya tersebut, baik bagian depan maupun bagian punggung pak Ibnu. Saat menggosok tangan Pak Ibnu, dia menjepit tangan Pak Ibnu di antara pangkal pahanya. Aini lalu menggoyangkan pinggulnya sehingga tangan Pak Ibnu bergesekan dengan permukaan vaginanya. Pemandangan yang begitu seksi. Hal-hal sederhana seperti mandi bisa menjadi sangat erotis jika bersama Aini. Beruntungnya para lelaki yang bisa membayar mahasiswi cantik itu.

Setelah mandi, mereka lalu melanjutkan aktifitas di tempat tidur. Mereka masih sama-sama bugil. Sebelum langsung menyetubuhi Aini, Pak Ibnu ingin bersenang-senang sedikit. Dia ingin menyusu ke buah dada Aini. Pak Ibnu sangat tergoda dengan buah dada Aini yang begitu ranum. Bentuknya indah membulat dengan ukuran yang lumayan besar. Ainipun dengan senang hati menuruti permintaan cabul pria paruh baya tersebut.

“Sini-sini yang mau nyusu, udah gede tapi masih suka nyusu, nakal!” goda Aini menepuk-nepuk pahanya mempersilahkan Pak Ibnu tiduran di pangkuannya. Pak Ibnupun langsung berbaring di atas paha Aini dan mulutnya langsung menyosor puting buah dada mahasiswi itu.

Setelah beberapa saat, nafsu Pak Ibnu sudah diubun-ubun. Dia tidak tahan lagi untuk tidak mengentoti mahasiswa cantik yang sedari tadi menggoda birahinya. Mereka lalu bersetubuh dengan panasnya. Pak Ibnu menyetubuhi mahasiswi cantik itu dengan nafsu menggebu-gebu. Hanya suara rintihan dan desahan mereka yang terdengar di kamar tersebut. Meski sudah berumur, stamina Pak Ibnu masih bisa mengimbangi stamina gadis itu. Pak Ibnu dua kali muncrat di vagina Aini. Satu kali di wajah cantik Aini. Puas bersetubuh merekapun lalu tidur berdua. Berpelukan di dalam selimut hingga pagi menjelang.

***

Aini terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dilihatnya di sebelahnya sudah tidak ada Pak Ibnu. Aini kemudian bangkit duduk. Dia melihat ke sekitar mencoba mencari keberadaan pria tersebut. Awalnya dia pikir Pak Ibnu sedang ada di kamar mandi saat ini, namun tidak ada suara air mengalir yang terdengar. Dia lalu menemukan memo di atas meja di samping tempat tidur. Memo tersebut dari Pak Ibnu. Memo tersebut berisi pesan kalau Pak Ibnu harus pergi pagi-pagi karena ada keperluan mendadak. Dia tidak enak membangunkan Aini. Di memo tersebut juga tertulis pesan jika gadis itu butuh sesuatu tinggal hubungi dia.

Aini meletakkan kembali memo tersebut di atas meja. Gadis itu tidak masalah ditinggal terlebih dahulu oleh Pak Ibnu. Toh uangnya sudah ditransfer duluan sebelum mereka bertemu semalam.

Aini kemudian meraih tasnya yang berada di bawah meja untuk mengambil ponselnya. Aini mengecek ponselnya. Dia membaca pesan-pesan yang belum dia baca sejak tadi malam. Sejak masuk ke kamar hotel, Aini tidak sempat membuka ponselnya sama sekali. Ternyata banyak pesan yang masuk ke ponselnya, salah satunya dari temannya Clarisa yang mengirimkan alamat kost untuknya.

Ya, Aini berencana untuk mencari kost yang baru. Dia memang biasa pindah dari kost yang satu ke kost yang lainnya sejak masih SMA. Alasannya macam-macam. Bisa karena kostnya yang kurang nyaman, harga yang mahal, fasilitas yang kurang lengkap, dan lain sebagainya.

Aini tidak tinggal dengan orangtuanya. Aini yang merupakan anak tunggal harus menerima kenyataan kalau ayah dan ibunya telah bercerai sejak dia SMP. Ayahnya sering ke luar negeri, sedangkan ibunya tidak pernah kedengaran kabarnya lagi sejak ikut dengan suami barunya. Awalnya dia tinggal di kota ini bersama paman dan tantenya, tapi Aini kemudian memutuskan untuk kost sendiri. Dia tidak suka diatur-atur oleh keluarga adik ayahnya tersebut.

Tempat kost yang direkomendasikan oleh Clarisa pada Aini cukup strategis. Kost-kostan tersebut tidak terlalu jauh dari kampusnya serta berada di pinggir jalan besar. Di sekitarnya juga banyak tempat makan. Uang sewa kamarnya juga tergolong murah. Alasan lainnya yaitu karena kos-kosan tersebut adalah kost campur. Kost tersebut menerima penghuni cowok maupun cewek. Selama ini dia tinggal di kost khusus cewek yang aturannya cukup ketat. Jadi dia pikir kost-kostan ini cocok untuknya.

Setelah membaca pesan-pesan masuk dan membalasnya, Aini kemudian bersih-bersih, berpakaian, mengemasi barang-barangnya, lalu keluar dari hotel.

***

***

***

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Para penghuni kost duduk menonton tv sambil bercerita di sebuah ruangan komunal yang cukup luas. Mereka tampak sangat akrab satu sama lain. Meski berbeda jenis kelamin, tapi mereka tidak risih. Mereka sudah seperti keluarga. Mereka saling menghormati satu sama lain dan menjaga tingkah laku. Status kost campur yang identik dengan maksiat tidak terlihat di sana. Justru penghuninya sangat agamis.

Sungguh sangat jarang, bahkan sangat kebetulan sekali penghuni-penghuni kost campur begitu agamis, tapi itulah yang terjadi di sana. Kost tersebut tidak hanya diisi oleh para mahasiswa. Banyak juga para pegawai yang tinggal di sana. Mereka memilih kost campur dengan berbagai alasan. Di antaranya karena tidak ada jam malam sehingga bisa lebih fleksibel dalam beraktifitas, jadi sangat berguna bagi yang kerab beraktifitas hingga larut malam atau lembur kerja sampai malam. Menerima tamu juga bisa kapanpun. Kost tersebut juga relatif murah dari kost khusus. Kost tersebut berupa satu rumah besar yang memiliki banyak kamar di dalamnya.

Aini sudah dua hari pindah ke kost tersebut. Dia kini harus terbiasa dengan kebiasaan para penghuni di sana yang begitu agamis. Aini merasa seperti berada di sebuah pondok pesantren. Sungguh bertolak belakang dengan keseharian Aini selama ini. Jiwa lonte Aini merasa risih dengannya.

Kemaren, salah satu teman kostnya mengajak Aini ke Masjid, tapi Aini menolaknya dengan alasan sedang halangan. Tentu saja Aini hanya berbohong. Alasan sesungguhnya karena Aini tidak bisa sholat. Dan dia memang tidak punya niat untuk melakukannya. Orangtuanya tidak pernah mengajarkannya ibadah sejak kecil. Agama di KTP nya hanya tulisan semata.

Begitu Aini menyadari kost tersebut tidak sesuai harapannya, diapun berniat untuk pindah. Tapi tidak dalam waktu dekat karena dia sudah terlanjur tinggal. Butuh waktu dan tenaga untuk mencari kost baru dan pindahan lagi. Jadi Aini terpaksa tinggal di sana sementara waktu. Aini hanya bisa kesal pada Clarissa yang telah merekomendasikan kost tersebut. Dia terpaksa mencoba untuk berbaur.

“Hai semua,” sapa Aini bergabung duduk di sofa. Aini bergabung dengan sembilan penghuni kost lainnya. Dia mencoba santai meski sebenarnya begitu kikuk berada di tengah-tengah mereka. Kehadiran Aini langsung menyedot perhatian para penghuni kost yang lain, terutama para cowok. Bagi para cowok, sosok Aini memang begitu mempesona. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi pakaian Aini saat itu cukup terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Cowok manapun pasti betah memandangnya. Salah satunya Danar.

Danar. Pria kumisan berpostur tinggi tegap itu menoleh dan tersenyum pada Aini. Rambutnya ikal. Kulitnya gelap. Wajahnya tidak tampan, bahkan ndeso, tapi dia orang yang baik. Dia juga orang yang rajin beribadah. Usianya sudah 30 tahun tapi belum menikah. Danar bahkan belum pernah pacaran. Itu karena dia begitu grogi jika dekat dengan wanita. Meskipun begitu dia adalah laki-laki normal. Jika lagi pengen, dia akan onani untuk menuntaskan nafsunya. Danar bukanlah penghuni kost di sana. Dia bekerja di sana sebagai penjaga kost sekaligus tukang bersih-bersih.

Sejak Aini pindah ke sini, Danar jadi sering memperhatikan Aini. Danar sebenarnya ingin menjaga pandangannya karena takut dosa, tapi entah kenapa dia tidak kuasa beralih dari sosok Aini saat gadis itu di dekatnya.

“Mas Danar kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Aini tersadar cowok itu memperhatikannya dari tadi.

“Karena pakaian kamu tuh Ai...” ujar Nurul menyahut. Nurul merupakan seorang mahasiswi sekaligus seorang pegawai swasta. Saat siang Nurul berkerja, malamnya ia kuliah. Sedikit berbeda dengan Aini. Aini siang kuliah, malamnya melacur. Namun sejak pindah ke sini, Aini belum sempat melakukan pekerjaan maksiatnya tersebut.

Aini memperhatikan pakaiannya. Sekilas dia tidak melihat ada yang salah dengan pakaian yang dikenakannya. Tapi dia baru sadar kalau bagi mereka pakaianya ini cukup tidak pantas. Dia hanya memakai tanktop dan celana pendek. Paha mulusnya terumbar. Belahan dadanya terlihat. Auratnya kemana-mana.

“Upss... sorry,” ucap Aini santai. Gadis itu merasa tidak harus menjadi seperti mereka. Dia merasa tidak harus ikut-ikutan menutup aurat.

“Kalau bisa kamu belajar untuk nutup aurat deh,” ujar Hilma.

“Betul tuh,” sahut yang lainnya.

“Ya... ya... kapan-kapan deh!” Aini lalu bangkit dan berjalan kembali ke kamarnya. Aini kini jadi kesal. Dari dulu dia paling gak suka diatur-atur. Apa yang orang anggap benar mungkin bukan sesuatu yang benar di hadapan yang lain. Apa yang orang sukai tidak harus disukai juga oleh yang lain. Begitulah menurut Aini. Gadis itu punya pandangan sendiri tentang apa yang dia anggap benar dan apa yang dia sukai.

**

Sore menjelang malam. Aini baru saja selesai mandi, namun gadis itu tidak langsung memakai baju. Aini beraktifitas di kamarnya tanpa busana. Dia sedang foto-foto selfie bugil! Dari dulu dia memang suka telanjang bulat saat di kamar. Lebih adem menurutnya. Minimal hanya koloran. Kadang dia juga pernah koloran saja keluyuran di kost lamanya.

Karena dari tadi bugil, Aini yang memang punya nafsu seks tinggi jadi horni sendiri. Diapun bermasturbasi. Aini mendesah dan merintih-rintih kencang seakan hanya ada dia sendiri di kost. Tubuh Aini yang masih basah jadi makin basah oleh keringatnya sendiri. Kasur tempat tidurnyapun jadi becek karena cairan vaginanya.

Saat Aini sedang asik bermain dengan vaginanya, seseorang mengetuk pintu kamarnya sambil mengucap salam. Aini yang kaget langsung melompat dari ranjang dan membuka lemari pakaian. Dia raih baju kaos dan celana pendek. Namun dia tidak sempat memakai dalaman.

“Bentaaar,” teriak Aini. Setelah selesai berpakaian Aini membuka pintu kamarnya. Rupanya orang itu adalah Danar. Saat itu Danar kebetulan lewat di depan kamar Aini dan mendengar suara rintihan dari dalam kamar Aini. Untungnya suasana kost saat itu lagi sepi. Hanya Danar yang mendengar suara rintihan Aini.

“Mas Danar? Ada apa?” tanya Aini. Wajah Aini tampak memerah dan penuh keringat. Bulir keringat tampak menggantung di dagunya. Rambutnya juga kusut dan becek karena keringatnya. Penampilan Aini yang seperti itu membuat dada Danar bergetar. Aini sangat cantik dan tampak menggairahkan!

“Anu... tadi aku dengar kamu merintih-rintih gitu di kamar, kamu gak apa-apa? Kamu lagi sakit?” tanya Danar kemudian.

“Gak apa kok... Tadi itu bukan merintih kesakitan, tapi merintih keenakan Mas Danar...” jawab Aini senyum-senyum. Danar jadi salah tingkah. Pikirannya melayang kemana-mana mendengar jawaban Aini.

“Ohh... gitu, ya sudah kalau kamu baik-baik saja,” ujar Danar. Dia masih memperhatikan Aini. Dia suka lama-lama melihat gadis tersebut. Aini sangat tahu kalau Danar begitu terpesona dengannya. Dasar Aini nakal, dia malah ingin menggoda Danar.

“Mas Danar, tolong antarin galon ke kamarku dong... Galon di kamar aku udah habis nih...” ujar Aini kemudian.

“Oh, baik...” jawab Danar mengiyakan. Sebagai penjaga kost dan tukang bersih-bersih di sana. Memang sudah sewajarnya para penghuni kost meminta bantuannya seperti itu.

“Gak lagi sibuk kan Mas?”

“Gak kok...”

“Aku tunggu ya Mas... nanti langsung masuk aja,” ujar Aini lagi sambil melempar senyum. Danarpun beranjak dari depan kamar Aini lalu menuju dapur. Tak lama kemudian dia kembali ke kamar Aini sambil membawa galon. Alangkah terkejutnya Danar saat kembali ke kamar Aini, dia menemukan gadis itu telah berganti pakaian dengan memakai... lingerie seksi!

Danar letakkan galon tersebut di lantai. Dada Danar berdebar kencang. Dia menelan ludah melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia kaget bukan main melihat Aini tiba-tiba berpakaian seperti itu di depannya. Dia sampai menyebut nama Tuhan.

“A..aini... kamu ngapain? Kenapa tampil seperti itu?? Duuh... auratmu Aini!!” seru Danar gusar, tapi dia tidak memungkiri betapa cantik dan menggemaskannya gadis tersebut. Aini sendiri tetap santai tak mempedulikan kegusaran Danar.

“Aku baru beli lingerie, gimana menurut Mas Danar? Bagus tidak lingerie baru aku?” tanya Aini memasang senyum manis sambil memutar tubuhnya, memperlihatkan bagian depan dan belakang tubuhnya yang dibalut lingerie seksi pada pria di depannya.

Lingerie yang Aini kenakan berwarna pink blossom berjenis baby doll transparan. Selain warnanya kalem, kulit Aini yang putih bersih cocok sekali dengan jenis warnanya. Hanya ada dua tali pengait diatas payudara yang melingkar di leher gadis itu. Untuk bagian belakang, kain lingerie tersebut tidak menutupi punggung. Kalau di lihat dari belakang, punggung Aini terekspos. Mungkin hanya pantat Aini saja yang tertutupi. Di atas pantat, sepenuhnya terekspos. Bawahannya berbentuk rok yang panjangnya hanya sedikit dibawah selangkangan. Karena bahannya yang transparan, ditambah Aini tidak memakai celana dalam, maka vagina dan pantat Aini jadi menerawang.

“Aini...” Danar tertegun dengan kecantikan Aini. Entah apa tujuan gadis itu memakai busana seperti ini di depannya. Namun yang pasti Danar menyukai pemandangan yang sedang tersaji. Danar tahu bahwa tidak sepantasnya gadis tersebut berbusana seperti itu di depan pria yang bukan muhrim seperti dia. Danar juga tahu bahwa dia tidak sepantasnya terus memandangi gadis tersebut. Tapi matanya tidak bisa berpaling dari Aini. Dia tergoda dengan kecantikan Aini.

“Mas Danar, jawab dong... bagus tidak?” tanya Aini lagi.

“Ba..bagus...” Danar menjawab dengan grogi.

“Cocok gak aku makainya?” tanya Aini lagi.

“Co..cocok.”

“Hayooo.... pelototin apa? Mas Danar suka ya lihat aku pakai begini?”

“Su..suka.”

“Hihihi, Mas Danar nggak usah grogi gitu, santai aja, hihihi... Kalau Mas Danar suka, Mas Danar boleh ambil foto-foto aku sebanyak yang Mas Danar mau, anggap aja imbalan karena sudah bantuin angketin galon,” ujar Aini mulai lacur.

“Hah?”

“Iya... boleh ambil foto-foto aku... Tapi tutup dulu pintunya, jangan sampai ketahuan kalau Mas Danar lagi berduaan di sini sama aku”

“Tapi, kita kan bukan muhrim... gak pantas berduaan di kamar,” ujar Danar sambil mencoba menguatkan iman agar tidak tergoda. Aini tersenyum. Betul-betul cowok alim! Tawa Aini dalam hati.

“Cuma foto-foto kok... gak macam-macam, itu juga kalau Mas Danar mau... Tapi masalahnya aku gak bakal sering-sering juga sih tampil pake lingerie begini di depan Mas Danar,” ujar Aini memancing.

Pertahanan Danar luluh. Imannya runtuh digoda mahasiswi cantik itu. Meskipun telah berusaha sekuat hati agar tidak tergoda, tapi akhirnya dia tidak kuat juga. Pesona Aini terlalu kuat untuk dilawannya. Danar akhirnya mengiyakan tawaran dari Aini. Pintu kamar Aini kemudian ditutupnya. Sekarang mereka berdua di dalam kamar!

“Ohh... Aini, kenapa kamu cantik sekali?” batin Danar dalam hati melihat gadis muda itu. Danar lalu mengambil handphone dari saku celananya. Danarpun mulai memotret Aini dengan kamera ponselnya. Gadis itu dengan lincahnya berpose untuk Danar. Memasang pose-pose anggun hingga centil untuk Danar, yang membuat penis cowok itu otomatis tegang maksimal dari balik celana.

“Mau foto berdua?” tawar Aini kemudian. “Glek...” Danar menelan ludah.

“Foto berdua?”

“Iya...”

“O..oke” Danar mengiyakan. Dia makin terjerat pesona Aini.

Aini kemudian menarik tangan kiri Danar untuk duduk di samping tempat tidur. Kepala Aini menempel di bahu sebelah kanan Danar. Dada cowok itu makin berdebar, dia tidak pernah sedekat ini dengan cewek, apalagi cewek yang cantik mempesona dengan busana menggoda iman seperti Aini sekarang. Wangi tubuh Aini begitu harum. Dengan tangan gemetar, Danar mengarahkan ponsel untuk dapat selfie berdua dengan gadis di sebelahnya. Aini tersenyum imut ke arah kamera.

Tap! Gambar wajah mereka terambil. Di foto, Danar yang grogi berusaha tersenyum dengan menampakkan beberapa gigi serinya. Aini juga tersenyum, tapi tidak menampakkan gigi.

“Mana sini liat fotonya,” ujar Aini meraih ponsel Danar untuk mencek hasil foto barusan.

“Grogi banget Mas Danarnya, jadi jelek kan fotonya, hihihi...” tawa Aini.

“Iya, soalnya kamu cantik banget, hehe,” jawab Danar sambil memuji.

“Santai aja Mas Danar, gak usah grogi... Yuk lagi!” ajak Aini. Danar mengangguk.

Danar kemudian mengarahkan ponselnya dari depan, namun sedikit dari arah atas. Kali ini jarak mereka semakin dekat. Aini menempelkan wajahnya ke pipi kanan Danar.

“Peluk aja Mas Danar, gak papa,” ujar Aini menuntun tangan Danar untuk memeluknya. Tangan kanan Danar memeluk Aini dari punggung sampai telapak tangannya hinggap di pinggang di bawah ketiak Aini sebelah kanan. Dada cowok itu makin berdebar. Separuh hatinya tahu kalau ini adalah dosa, tapi separuh hatinya lagi tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Saat Danar mengambil foto, Aini tiba-tiba memeletkan lidah.

“Duh, melet kamunya, jadi jelek kan,” protes Danar.

“Hihihi, maaf Mas, hapus aja kalau jelek,” ucap Aini.

“Bercanda, bagus kok, hehe... foto lagi ya?”

“Iya... silahkan.”

Aini dan Danar lalu selfie berdua lagi. Tap! Tap! Tap! Gambar mereka berdua beberapa kali terambil. Mereka seperti pasangan. Danar yang tadinya grogi setengah mati, perlahan mulai menikmati momen foto-foto berdua dengan Aini.

“Aku ada sesuatu buat Mas Danar.”

“Apa itu?”

“Lepasin dulu dong tangannya,” balas Aini senyum-senyum binal. Danar lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Aini. Gadis itu lalu bangkit, dia mengambil handphonenya dan menyetel sebuah lagu. Dengan perlahan, Aini lalu melepaskan lingerie yang menempel di tubuhnya. Dia ingin mempertontonkan lebih banyak aurat-auratnya pada pria di hadapannya ini. Tak butuh waktu lama, Aini yang tadi masih berpakaian, kini telah telanjang bulat di hadapan Danar. Nafas cowok itu semakin berat. Baru kali ini dia melihat gadis cantik telanjang secara langsung. Penis di balik celananya semakin mengeras!

“Kenapa Mas Danar? Baru kali ini ya lihat cewek telanjang?” goda Aini.

“I..iya...” jawab Danar jujur.

“Gak papa, nikmati aja, cuma kita berdua kok yang tahu, nih!” ujar Aini sambil melemparkan lingerienya ke muka Danar.

“Duh, kamu...”

“Hihihi, yuk, lanjut lagi foto-fotonya....” ajak Aini sambil kembali duduk di ranjang di sebelah Danar. Sebenarnya Aini lah yang paling antusias. Dari dulu Aini paling suka foto-foto, terutama foto-foto selfie. Aini mengagumi wajah dan tubuhnya sendiri. Dia juga suka kalau orang-orang mengaguminya. Di akun sosial medianya, Aini punya banyak pengikut yang selalu memuji setiap foto yang ia posting.

Tap! Tap! Beberapa gambar terambil. Mereka selfie dengan pose duduk berdua di tepi ranjang. Danar yang masih berpakaian lengkap memeluk pinggang Aini yang bertelanjang bulat. Sangat kontras!

“Kalau mau, Mas Danar boleh pegang toket aku,” tawar Aini saat mengetahui Danar sedari tadi melirik-lirik ke buah dadanya.

“Aku boleh pegang toket kamu?” tanya Danar memastikan. Danar tak percaya ada wanita cantik yang mempersilahkan dia menyentuh salah satu aurat terindah seorang wanita.

“Tentu saja boleh,” jawab Aini tidak keberatan. Aini senang mengetahui Danar tergila-gila padanya. Aini lalu menuntun Danar untuk bangkit berdiri, dia lalu meraih tangan kanan Danar yang gemetar dan meletakkannya di buah dadanya.

“Nih coba Mas Danar rasakan, baru kali ini pegang toket cewek, kan? Gimana rasanya?”

“Lembut, kenyal...”

“Suka?”

“Suka”

“Kita lanjut lagi ya foto-fotonya, kali ini biar aku yang pegangin hape Mas Danar... Mas Danar juga gak usah ragu, mau apa aja Aini turutin kok, gak usah takut dosa, dosa dikit gak papa, hihihi,” ujar Aini yang membuat Danar semakin antusias.

Mereka lanjut berswafoto. Foto demi foto terus diambil. Pose mereka berdua juga semakin berani dan semakin mesum. Tap! Kali ini wajah Danar seperti mencium payudara kiri sisi samping Aini. Tap! Berikutnya pose Danar meremas payudara kanan Aini. Gadis itu mengambil foto dirinya yang sedang dimesumin cowok tersebut. Di gambar-gambar tersebut tampak Aini tersenyum riang seolah tidak terjadi apa-apa.

Aini dan Danar semakin terbawa suasana. Aini kemudian menuntun Danar untuk melepaskan kaos yang dikenakan cowok itu. Danar menurut saja. Sekarang Danar sudah bertelanjang dada, tepat di depan Aini yang bertelanjang bulat. Nafsu cowok itu sudah memuncak. Jika memang itu berdosa, dia akan menikmati dosa tersebut.

Saat melihat pantulan bayangan mereka di cermin, Aini kemudian meminta untuk lanjut foto-foto di depan cermin. Posisi mereka masih sama-sama berdiri.

“Sekarang coba Mas Danar tutupi puting aku,” pinta Aini. Danar berada di belakang tubuh Aini. Karena Danar menempel tepat di belakangnya, maka gadis itu dapat merasakan tonjolan penis Danar menyentuh pantatnya. Danar lalu menutupi sepasang puting dan areola Aini dengan kedua telapak tangannya. Aini menutup selangkangannya dengan tangan kirinya sambil tangan kanannya mengambil gambar.

Tap! Tap! Tap! Beberapa gambar diambil dengan pose tersebut. Kadang jari-jari Danar terbuka hingga sepasang puting Aini mencuat di antara jari-jarinya. Kadang Danar menekan puting Aini terlalu kuat sehingga buah dada Aini jadi tergencet. Buah dada Aini jadi terlihat menggembung di sisi kiri dan kanannya.

“Sekarang Mas Danar tutupi juga memek aku,” pinta Aini. Jadilah pose berikutnya tangan kanan Danar menutupi kedua puting payudara Aini, sementara tangan kirinya menutupi vagina Aini dari belakang di bawah pantat. Sungguh pose yang sangat seksi!

Awalnya Danar menutupi vagina Aini dengan tiga jari, lalu dua jari, hingga akhirnya satu jari. Danar yang sudah terbawa nafsu lalu mengikuti instingnya. Jari-jarinya tidak hanya diam, tapi bergerak liar baik yang sedang hinggap di buah dada Aini maupun yang sedang hinggap di vagina Aini. Gadis itu sendiri juga sudah horni dari tadi.

“Kita bikin pose yang keren yuk... Mas Danar kuat kan ngangkat kaki aku?" tanya Aini.

"Kuat, pose keren gimana?" jawab Danar penasaran. Aini tersenyum.

Aini lalu menyuruh Danar mengangkat kaki kanannya dengan tangan dari belakang. Sekarang Aini hanya berpijak dengan kaki kirinya. Danar menopang paha kanan Aini. Betis dan telapak kaki kanan Aini menggantung.

“Masukin jari telunjuk kiri Mas Danar ke memek aku ya...” ujar Aini. Perangai lacur Aini semakin menjadi-jadi. Danar yang mendengarnya membuat dadanya semakin berdebar tak karuan. Aini kemudian mengambil gambar dengan merapatkan kedua tangannya di depan. Aini memegang ponsel dengan kedua tangannya. Aini arahkan kamera ke cermin lalu mengambil gambar. Sebuah gambar terabadikan kembali, kali ini dengan vaginanya yang dimasuki jari!

“Kamu sudah tidak perawan ya?” tanya Danar, Aini menggeleng tersenyum. Mereka masih dengan posisi tadi.

“Sejak kapan?” tanya Danar penasaran.

“Ada deh... mau tau aja.”

“Hehe...”

“Eh, gimana Mas Danar memek Aini?”

“Anget.”

“Mas Danar suka?”

“Suka... boleh gak aku diamin jari aku di memek kamu lebih lama lagi?” pinta Danar. Dia begitu excited dengan pengalaman barunya.

“Uhh... iya boleh,” jawab Aini yang sudah horni. Awalnya jari Danar hanya diam, tapi lama-kelamaan dia mulai menggerakkan jarinya keluar masuk di vagina gadis itu. Tidak hanya satu jari, Danar kemudian memasukkan dua jarinya ke dalam Vagina Aini.

“Ahhhhh... Mas Danar nakal,” rintih Aini manja saat merasakan vaginanya bertambah sesak. Aini tidak memprotes. Dia biarkan cowok itu bermain-main dengan vaginanya. Danar yang diberi angin kini malah memasukkan ketiga jarinya ke vagina Aini.

Aini kemudian iseng mengaktifkan mode video dan mengarahkannya ke cermin yang sedang memperlihatkan adegan dirinya yang sedang diobok-obok vaginanya oleh Danar.

“Hai, aku Aini... sekarang memek aku lagi diobok-obok sama Mas Danar,” ujar Aini menghadap cermin. Begitu binal!

“Uhh... enak Mas Danar, kocokin terus, sshh... yang kenceng... ahhhh...” ujar Aini bereskspresi senakal mungkin di depan kamera hape yang sedang merekam.

Sambil terus merekam dan vaginanya diobok-obok Danar, Aini sesekali mendesah. Pinggulnya kadang maju mundur mengiringi gerakan jari Danar di vaginanya. Adegan yang terekam di depan cermin tersebut betul-betul hot! Danar yang tahu Aini sedang merekam terus asik saja dengan aktifitasnya.

Aini betul-betul horni. Kocokan jari Danar di vaginanya bikin Aini semakin sange. Tak butuh waktu lama bagi gadis yang memiliki libido tinggi tersebut untuk orgasme. Jari Danarpun jadi basah karena cairan orgasme Aini.

Aini lalu memutar tubuhnya. Gadis itu kemudian meraih tangan kiri Danar. Jari telunjuk Danar yang tadi masuk ke vaginanya kemudian ia masukkan ke mulutnya dan ia emut seperti permen. Aini dapat merasakan cairan vaginanya sendiri. Tap! Satu foto lagi terambil. Kamera yang tadinya dalam mode video sudah diubah lagi ke mode kamera. Aini selfie dengan pose mengemut jari Danar.

Cukup lama juga Aini mengulum jari Danar pada Danar. Cowok itu sangat betah membiarkan Aini bermain dengan jari-jarinya. Seluruh jari di tangan kirinya kini bahkan sudah basah dijilati gadis itu. Aini menjilatinya satu-persatu. Danar dapat merasakan hangatnya rongga mulut Aini dan tebalnya lidah Aini yang menyelimuti jari-jarinya. Sesekali Aini juga menggigit-gigit kecil jari-jari Danar yang membuat Danar makin terbuai.

Setelah beberapa saat, Aini kemudian melepaskan kulumannya. Tampak untaian tali dari liur yang terbentuk antara bibir Aini dan jari Danar.

“Masukin jari Mas Danar ke memek aku lagi dong...” pinta Aini sange. Danarpun menuruti. Danar kembali memainkan vagina Aini. Tangannya mengusap-usap klitoris Aini. Jarinya kembali keluar masuk di liang vagina Aini. Gadis itu kembali mendesah-desah. Danar suka saat melihat Aini keenakan akibat ulahnya. Sambil membiarkan alat kelaminnya dimainkan cowok itu, Aini meremas-remas buah dadanya sendiri. Aini semakin horni. Desahan dan erangan Aini makin kencang. Kadang desahan dan erangan gadis itu terdengar cukup kencang yang membuat Danar jadi was-was. Dia takut kalau ada penghuni lain yang mendengarnya.

Setelah beberapa saat, Aini kembali orgasme. Setelah itu Danar mengulanginya lagi dan lagi hingga Aini orgasme berkali-kali. Gadis itu sampai lemas. Lemas tapi puas.

Aini yang sempoyongan karena beberapa kali orgasme langsung merebahkan diri ke tempat tidur. Pemandangan Aini yang telanjang bulat di tempat tidur membuat adrenalin Danar semakin menggebu-gebu. Diapun menyusul Aini naik ke tempat tidur dan menghimpit tubuh molek Aini. Dia hujani wajah Aini dengan ciuman. Tangannya juga meraih buah dada gadis itu dan meremasnya. Nafsu sudah membutakan Danar!

Puas mencium wajah Aini, Danar lalu menciumi buah dada gadis itu. Dia jilat dan dia kulum puting Aini yang coklat menggoda. Danar memeluk Aini seperti guling sambil menyusu. Aini yang masih memegang ponsel lalu mengambil foto-foto lagi. Tampak di foto tersebut Danar seperti anak kecil yang sedang menyusu pada ibunya. Sangat mesum.

Aini yang kembali horni jadi pengen dientotin. Siapa sangka dia justru terbawa nafsu sendiri, padahal niatnya tadi hanya ingin menggoda cowok itu. Di sisi lain, Danar yang tadinya mati-matian menahan godaan Aini, akhirnya jadi benar-benar tak kuasa menahan nafsunya. Instingnya menuntunnya untuk menyetubuhi gadis cantik di hadapannya.

Mereka kini sama-sama dikuasai nafsu. Danar melepaskan celananya. Penisnya yang tegang sedari tadi akhirnya berdiri bebas. Tanpa tedeng aling-aling Danar berkata pengen ngentotin Aini. Gadis itu hanya tersenyum. Aini juga sudah tidak tahan ingin memeknya dikontoli.

Berikutnya mereka tidak banyak berkata-kata. Danar langsung mengarahkan penisnya ke vagina Aini yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Meskipun memek Aini sudah basah, namun penis Danar selalu meleset saat akan masuk. Akhirnya Aini menuntun penis Danar masuk ke vaginanya dengan tangannya. Jleb! Penis Danar Akhirnya masuk ke vagina Aini.

“Ahhhhh....” lenguh Aini.

“Aini... Ohhhh.... Aini” Danar memanggil nama Aini. Danar bahagia luar biasa. Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya ngentot. Rasa bahagianya berkali-kali lipat karena gadis yang dia entoti adalah wanita yang luar biasa cantik. Dia tidak peduli meskipun ini adalah zinah.

Penisnya terasa nikmat sekali di dalam sana. Vagina Aini seperti menyedot dan menghisap penisnya. Sensasinya luar biasa. Namun karena baru pertama, beberapa genjot saja sudah membuat Danar tidak tahan untuk muncrat.

“Mas Danar... jangan buang di dalam ya...” ujar Aini memperingati saat merasakan penis Danar berkedut-kedut di vaginanya.

“Ohhh... Aini, aku mau muncrat,” ujar Danar kemudian. Seandainya Aini tidak memperingati, Danar pasti muncrat begitu saja di dalam vagina gadis tersebut.

“Keluarin aja di toket aku,” balas Aini. Danar lalu mencabut penisnya dari vagina Aini dan mengarahkannya ke buah dada Aini.

Crroooot... crooottt... crooottt... Air mani Danar menyemprot kencang di atas buah dada Aini. Beberapa semprotan mengenai wajah dan leher jenjang Aini. Tampak oleh Danar buah dada Aini yang putih mulus itu kini jadi berlumuran spermanya yang kental dan banyak. Danar tidak pernah ejakulasi senikmat ini.

“Maaf Aini, aku belum pernah,” ujar Danar meminta maaf karena dia sampai begitu cepat.

“Gak apa kok,” balas Aini. Meskipun sebenarnya kecewa, tapi Aini memakluminya. Lagi pula Aini sudah cukup puas karena tadi Danar sudah membuatnya orgasme berkali-kali dengan permainan jari di vaginanya.

“Sini aku bersihin,” ujar Aini menawarkan diri. Dengan masih telentang, Aini kemudian menggeser badannya ke bawah sehingga penis Danar kini berada tepat di depan mulutnya. Dia lalu memegang penis tersebut dengan tangan kiri lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Beberapa sperma yang tersisa pada ujung kepala penis Danar ditelan oleh Aini. Dasar Aini nakal, dia masih saja lanjut selfie-selfie. Saat penis Danar menyundul pipi kanan bagian dalam, Aini mengambil gambar. Begitu juga saat mulut Aini mengulum penis Danar.

Setelah beberapa saat Danar kemudian melepaskan penisnya dari mulut Aini. Dia duduk bersandar di tempat tidur. Perasaannya campur aduk. Antara senang dan menyesal karena telah berbuat dosa. Dia tidak seharusnya melakukan ini. Dia marah dengan dirinya sendiri karena kalah dari nafsunya. Tapi dia tidak bisa marah dengan Aini. Meskipun gadis itu nyata-nyata telah menggodanya, tapi setiap melihat Aini jantungnya berdebar kencang, selalu ada perasaan bahagia. Dia pikir dia telah jatuh cinta pada gadis tersebut. Tapi, apakah gadis itu juga mencintainya? Apakah gadis itu menggodanya karena suka padanya? Tanya Danar dalam hati.

“Ini hape Mas Danar aku kembalikan, foto-fotonya jangan sampai tersebar ya...” ujar Aini. Danar hanya tersenyum kecil, lalu bangkit dari ranjang.

“Aku permisi dulu, ada urusan,” ujar Danar sambil mengenakan pakaiannya kembali.

“Iya Mas,” sahut Aini.

Tanpa ada kata-kata lagi setelah itu, Danar keluar dari kamar Aini. Tak lama kemudian Aini menerima sebuah pesan. Ada pelanggannya yang ingin memakai jasanya malam ini.

***

***

***

Malam itu Aini tidak menginap di kost. Danar yang tadi siang mengalami saat-saat indah berdua dengan Aini jadi bertanya-tanya kemana gerangan gadis itu pergi. Danar mencoba menghubungi Aini lewat pesan WA, tapi tidak pernah dibalas oleh gadis itu, dibacapun tidak. Aini yang tidak berada di kost malam itu sungguh membuat Danar khawatir. Entah kenapa malam itu Danar begitu merindukan Aini. Dia ingin melihat sosok Aini. Dia ingin bersama dengan Aini. Bahkan Danar berharap dia dapat mengulangi apa yang terjadi tadi siang dengan Aini.

Rasa sesal yang sempat muncul tadi siang kini sudah hilang, berganti dengan rasa rindu yang amat sangat. Sosok Aini begitu membekas di hati dan pikirannya. Namun apa yang terjadi sangat jauh dari yang diharapkan Danar. Saat ini gadis itu justru sedang bersama pria lain. Aini sedang memberikan tubuh dan hatinya pada pria lain yang telah membayar mahal dirinya. Aini sedang membiarkan liang vaginanya dimuncrati bermili-mili liter sperma pria lain.

Saat bersama kliennya, Aini memang tidak pernah menyentuh ponselnya sama sekali. Tidak ada satupun yang bisa menghubungi Aini, termasuk Danar. Padahal Danar sudah memberanikan diri untuk mengajak Aini keluar malam itu untuk bermalam minggu. Danar terus menunggu hingga akhirnya dia yakin kalau Aini tidak akan pulang. Danar hanya bisa berharap kalau Aini baik-baik saja di luar sana.

Aini baru kembali ke kost siang harinya. Saat Danar mengetahui Aini pulang, diapun langsung menemui gadis itu. Hatinya belum tenang jika belum melihat Aini. Dia ingin berduaan lagi dengan Aini.

“Aini!” seru Danar ketika melihat Aini baru datang.

“Ya Mas Danar, ada apa?” sahut Aini.

“Kamu dari mana tadi malam? Kok baru pulang?” tanya Danar kemudian. Pertanyaan tersebut timbul karena rasa khawatir dan perhatian Danar. Sayangnya Aini paling tidak suka ditanyai seperti itu. Selain karena dia tidak ingin Danar mengetahui pekerjaan sambilannya, dia juga tidak suka pertanyaan yang seperti mengatur-ngatur dirinya.

“Maaf mas Danar, Aini lagi capek, gak mau diganggu dulu,” ujar Aini pergi ke kamar dan menutup pintunya. Danar terenyuh karena Aini menganggapnya mengganggu. Sungguh respon Aini tidak seperti yang dia harapkan. Padahal dia sangat mengkhawatirkan gadis itu.

Meski kecewa, tapi Danar mencoba memahami. Mungkin saja Aini benar-benar capek dan tidak ingin diganggu. Namun kenyataannya, apa yang Danar rasakan tidak sama seperti yang Aini rasakan. Gadis tersebut tidak memiliki perasaan apapun terhadap Danar. Aini hanya menganggap Danar sebagai teman. Danar salah mengartikan perlakuan gadis itu padanya. Apa yang terjadi kemaren siang bukan karena gadis itu punya rasa terhadap Danar. Dia hanya ingin menggoda Danar, hingga akhirnya Aini jadi horni sendiri. Lagi pula memang begitulah Aini. Kecantikan dan sifatnya membuat laki-laki manapun jatuh cinta padanya.

Danar kembali ke kamarnya dengan perasaan murung. Tapi tanpa dia sangka-sangka ada pesan WA masuk dari Aini.

‘Maaf ya Mas Danar atas ucapan Aini barusan’ tulis Aini.

‘Iya, gk apa kok, aku ngerti kalau kamu lagi capek’ balas Danar.

‘Mas Danar sibuk gk? Bs temenin aku cari makan siang?’ tulis Aini lagi.

‘Bisa’

‘Ok.. Aini mandi dulu ya... stngh jam lagi kita pergi’

‘Sip’

Danar senang bukan main. Jantungnya bergemuruh saking gembiranya. Akhirnya dia bisa berduaan lagi dengan pujaan hatinya meskipun hanya untuk pergi makan.

Danar menggunakan kesempatan itu untuk lebih dekat dan mengenal Aini. Gadis itupun dengan ramah bercerita banyak tentang dirinya. Tapi tentu saja dia tetap tidak memberi tahu Danar rahasia kecilnya. Aini memang begitu ramah dengan siapapun lawan bicaranya, tak peduli meskipun status orang itu hanyalah penjaga kost dan tukang bersih-bersih seperti Danar.

“Mas Danar udah lama kerja di sini ?” Aini bertanya pada Danar. Saat ini mereka sedang santap siang sambil asik mengobrol di sebuah cafe yang tak jauh dari kost.

“Lumayan... Kamu sendiri kenapa ngekost di sini?” Danar balik bertanya.

“Alasan pindah kost karena gak nyaman di kost yang lama sih, tapi alasan milih kost di sini karena direkomendasikan teman,” jawab Aini.

“Ohhh....”

“Tapi kok orang-orang di kost alim alim semua ya? Padahal kan ini kost campur...” tanya Aini lagi.

“Hmm... Kenapa emang dengan kost campur? Baik-buruknya sebuah kosan itu tidak bergantung pada statusnya sebagai kost campur atau kost khusus cewek atau cowok... Baik-buruknya sebuah kost itu ditentukan sama penghuninya,” jawab Danar mantab. Aini tidak menyangka kalau Danar akan menjawab dengan bahasa sebagus itu.

“Ohh... benar juga sih.”

“Yang penting menjaga tingkah laku dan kesopanan sehingga kehidupan selama ngekost kondusif dan aman. Dan tentu saja, tetap berteman dengan tetangga supaya ada teman ngangkat galon sampai teman buat cerita... sepakat kan? Hehe,” sambung Danar.

“Iya... sepakat... Aini bisa susah kalau nanti Mas Danar gak mau bantuin angketin galon lagi, hihihi,” balas Aini tertawa. Danar ikutan tertawa.

“Jadi ya gitu... kalau mau maksiat sih nggak usah pakai tinggal di kost campur kali... di kost yang biasa juga banyak... kost campur itu nggak selamanya buruk dan kost khusus juga nggak selamanya baik.”

“Tapi kemaren Mas Danar udah berbuat maksiat sama aku, hihi...” goda Aini.

“Khilaf sih, hehehe,” jawab Danar garuk-garuk kepala walau tidak gatal. Aini tersenyum.

“Awas aja... nanti Aini bikin Mas Danar khilaf terus-terusan!”

“Waah... mau dong, hehe,” timpal Danar.

“Huuu... maunya... hihihi...”

“Iya, soalnya selama ini cuma bisa berfantasi sih.”

“Dasar cowok... hobinya coli sambil berfantasi aneh-aneh, haha... tapi aku juga sering sih berfantasi... Aku punya suatu fantasi, tapi mungkin bakal susah diwujudkannya, hihi,” ujar Aini.

“Oh ya? Apa?” tanya Danar penasaran.

“Aku punya fantasi tinggal di alam terbuka kayak di hutan gitu, tapi harus telanjang bulat, semua pakaian harus dibuang karena gak boleh pakai baju, gak boleh ada alat elektronik dan juga gak boleh ada alat komunikasi...”

“Waahhh... jadi kayak tarzan dong, hahaha...” Danar tertawa mendengarnya, tapi dia juga takjub, fantasi gadis cantik itu ternyata bisa begitu liar!

“Iya, pokoknya polos di dalam hutan... terbebas dari dunia luar.”

“Ada-ada aja... kalau bisa diwujudkan, emang kamu sanggup?” tanya Danar.

“Kalau gak dicoba ya belum tahu,” jawab Aini lalu meneguk jus alpukatnya.

“Hahaha, emang enak gitu tinggal sendirian di hutan?

“Asik tau... Eh, tapi kalau ada temannya lebih asik sih... Mas Danar mau temenin aku?”

“Ogah!”

“Ihh... kok gak mau? Kan seru!?”

“Seru dari manee??!!”

“Hihihi, iya... nanti kita hidup berdua di alam liar, seluruh aktifitas kita lakukan telanjang bulat, terus...” Aini kemudian memelankan suaranya dan berbisik, “... kita bisa ngentot sepuasnya di sana tanpa ada yang mengganggu,” ujar Aini senyum-senyum. Telanjang dan ngentot sepuasnya di hutan? Gila... pikir Danar, tapi penisnya jadi tegang membayangkannya.

“Owhh... terus?” tanya Danar.

“Nanti Mas Danar berburu hewan liar, aku yang masak...”

“Palingan cuma ada babi hutan, ogah ah makan babi hutan, haha.”

“Ya gak apa, dari pada gak ada yang bisa dimakan, hihihi.”

“Terus-terus?” Danar jadi antusias mendengar fantasi liar gadis cantik itu.

“Terus kita punya anak yang banyak deh... Terus anak-anak kita nanti saling nikah dan punya anak lagi... Terus keluarga kita makin besar deh di hutan itu...” terang Aini.

“Haha, keren tuh... Terus-terus?”

“Silahkan dibayangin sendiri lanjutannya, hihihi” ujar Aini. Danar hanya tertawa. Aini membalasnya dengan memeletkan lidah. Membuat Danar jadi gemas.

“Mas Danar, kita balik ke kost yuk...” ajak Aini kemudian.

“Cepat banget... Mau ngapain cepat-cepat balik ke kost?”

“Bobo siang.”

“Ohh... ya udah”

“Ihhh.... Dasar gak peka!” seru Aini tiba-tiba.

“Hah? Maksud kamu?” tanya Danar bingung.

“Aini mau bobo siang... bareng Mas Danar!” bisik Aini ke telinga Danar. Muka Danar langsung memerah. Dadanya berdegub kencang.

“Ka..kalau gitu ayuk deh buruan balik,” ujar Danar.

“Gak sabar ya dibikin khilaf? Hihihi”

“Hehehe, iya... tolong bikin aku khilaf terus-terusan...” balas Danar.

“Tapi nanti bisa lebih lama dari kemaren nggak?” tanya Aini menggoda Danar. Gadis itu mengungkit kejadian kemaren yang mana Danar ejakulasi begitu cepat. Aini harap kali ini Danar bisa lebih lama memuaskannya.

“Semoga bisa,” jawab Danar ragu.

“Harus!”

“Iya deh aku coba...”

“Kalau bisa lama, nanti aku bolehin muncrat di memek,” ujar Aini sambil tersenyum manis. Tubuh Danar lemas mendengarnya. Penisnya ngaceng gak karuan.

“Oke... oke, bisa!” wajah Danar berubah serius.

“Hihi... Mas Danar... Mas Danar, hihihi...”

“Ai... luph you...” lirih Danar.

“Hah?”

“Mulai sekarang aku mau manggil kamu Ai Luph You aja, bukan Aini, hehe...” ujar Danar.

“Gak mau... apaan Ai luph you, jelek!!” Seru Aini. Danar tertawa. Ainipun jadi ikutan tertawa. Mereka lalu kembali ke kost. Untuk tidur siang bersama.

**

Hari-hari setelah itu Aini makin akrab dengan Danar. Sesekali mereka diam-diam bermesraan saat kost sedang sepi. Para penghuni kost yang lain tidak tahu kalau ada yang sedang berzinah di sana. Lingkungan kost yang selama ini selalu kondusif serta jauh dari dosa, kini jadi ternoda sejak kedatangan Aini. Danar tahu kalau yang dilakukannya itu adalah dosa, tapi dia menyukainya. Dia tidak dapat menolak godaan nikmatnya berzinah. Cinta dan nafsunya pada Aini membuatnya jadi berbeda dari sosok Danar yang dahulu yang begitu agamis.

Danar bukannya tidak ingin hubungannya dengan Aini menjadi lebih serius. Karena tidak mungkin dia dan Aini terus-terusan diam-diam ngentot di kost. Hanya saja Danar belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan kalau dia ingin Aini menjadi istrinya. Aini sendiri sudah semakin nyaman dengan Danar. Aini juga tahu betapa Danar jatuh cinta padanya. Danar sangat beruntung bisa merasakan tubuh Aini tanpa harus mengeluarkan biaya. Danar menjadi laki-laki pertama yang Aini biarkan menikmati tubuhnya tanpa harus membayar, sejak yang terakhir adalah pacarnya dulu. Aini sempat berpikir untuk berhubungan lebih serius dengan Danar. Seandainya suatu saat laki-laki itu melamarnya, mungkin Aini akan menerimanya. Namun saat ini Aini cukup menikmati hubungan mereka yang hanya sebatas teman, teman tapi ngentot.

Tidak hanya dengan Danar. Hubungan Aini dengan teman-teman kostnya yang lain juga semakin akrab. Aini yang awalnya berniat ingin pindah dari sana, kini telah berubah pikiran. Dia pikir tidak ada salahnya juga tinggal di sini meskipun kadang jiwa lontenya risih dengan kebiasaan-kebiasaan teman-teman kostnya yang begitu agamis. Saat lagi-lagi teman-teman kostnya mengajak ke mesjid atau pengajian, Aini akhirnya mau tak mau jadi ikut-ikutan. Dia merasa tidak enak jika selalu menolak. Dia tidak ingin jadi dikucilkan karena tidak ikut bergabung bersama mereka.

Aini beberapa kali tidak tidur di kost. Seperti biasa, gadis itu sibuk dengan dunia malamnya. Menghabiskan waktu baik di klub malam ataupun di hotel bersama kliennya. Berbagai alasan dia utarakan kepada teman-teman kostnya yang bertanya, termasuk Danar. Sampai sekarang mereka tidak tahu betapa nakal Aini sebenarnya. Mereka tidak tahu ada seorang perempuan lacur yang tinggal bersama di tengah-tengah mereka. Aini bahkan telah membuat Danar, seorang cowok yang taat ibadah, kini jadi suka berbuat zinah dengannya. Aini yang memiliki nafsu seks tinggi memang butuh pelampiasan di kost saat lagi pengen, meskipun dia sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan kostnya yang agamis. Sementara itu Danar menyukai semua pengalaman barunya bersama Aini. Entah siapa yang berada di dunia barunya sekarang. Aini dengan lingkungan kost barunya yang begitu agamis, atau Danar yang baru merasakan nikmatnya dunia perzinahan.

Malam itu Aini tidak kemana-mana. Sepanjang hari Aini hanya berada di rumah. Dia bahkan mengurung diri di kamar sejak siang. Aini bukan sedang ingin menyendiri. Bukan pula sedang sibuk dengan urusan kampusnya. Hari ini dia hanya ingin beristirahat. Dia sedang tidak enak badan. Sudah beberapa hari ini badannya lemas dan meriang. Kepalanya sering sakit.

Danar yang mengetahui Aini sakit menjadi begitu khawatir, begitu pula teman-teman kostnya yang lain. Tapi tetap saja Danar lah jadi orang yang paling mencemaskan keadaan gadis itu. Aini meminta Danar untuk jangan cemas, dia hanya butuh istirahat. Danarpun membiarkan Aini beristirahat. Saat jam makan dia akan datang ke kamar Aini untuk membawakan makanan. Perhatian Danar begitu tulus pada Aini.

Namun saat itu, saat akan mengantar makan malam ke kamar Aini, Danar begitu terkejut saat menemukan Aini tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Dengan bantuan teman-teman kost yang lain, Aini segera dilarikan ke rumah sakit. Awalnya Aini dikira kelelahan dan terkena flu biasa, namun setelah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, diketahui kalau Aini... tertular HIV.

Tanpa sepengetahuan Aini, ternyata salah satu kliennya mengidap HIV. Dan tanpa sengaja kliennya tersebut telah menularkannya kepada Aini. Meskipun Aini telah berusaha membatasi kalangan mana saja yang dapat menjadi kliennya, namun ternyata tetap saja Aini tertular. Aini begitu terpukul saat mengetahui apa yang dialaminya. Gadis itu tak henti-hentinya menangis. Bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin bersenang-senang. Tapi semua sudah terlambat. Semua perbuatan ada konsekuensinya. Dan Aini harus menerima konsekuensi atas kenakalannya. Hari-hari selanjutnya, dia harus menjalani kehidupan barunya yang berat, sebagai pengidap HIV.

Tentu saja tidak hanya Aini yang terpukul, Danar juga terpukul dan tidak percaya kalau orang yang dicintainya telah tertular HIV. Hatinya perih. Apalah daya, Danar tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah tetap bersama Aini. Dia ingin terus berada di samping Aini, gadis yang dicintainya.

Di ruang kamar rumah sakit itu, Aini akhirnya menceritakan semuanya pada Danar. Rahasia kecilnya itu akhirnya dia ungkapkan pada pria tersebut. Danar langsung lemas mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau gadis yang dicintainya ternyata seperti itu. Aini ternyata seorang pelacur. Hati Danar semakin sakit teriris.

“Ini hukuman Tuhan buat aku, aku memang pantas menerimanya,” lirih Aini.

“Aini... jangan bicara seperti itu!”

“Tapi aku memang pendosa,” balas Aini.

Danar menggenggam tangan Aini.

“Seandainya... seandainya saja aku mengenal kamu dari dahulu... aku gak akan biarkan kamu menjadi seperti itu... seandainya saja waktu bisa aku putar...”

“Mas Danar... jangan salahkan waktu, jangan salahkan takdir... Waktu dan takdir tidak pernah salah... itu sudah ketetapan Tuhan, dan kamu gak bisa memprotesnya... kamu pasti lebih tahu tentang itu...” Aini lalu balas menggenggam tangan Danar, “bagaimanapun, Mas Danar sudah jadi seseorang yang terbaik dalam hidupku, makasih ya Mas...”

Danar tersenyum, begitupun Aini. Dengan senyuman, mereka berusaha saling menguatkan diri sendiri dan menguatkan satu sama lain. Mereka saling meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Meskipun harus mengetahui kenyataan pahit tersebut, tapi kenyataan pahit itu tidak sedikitpun merubah perasaan Danar. Semua yang telah terjadi justru membuat perasaan cinta Danar semakin kuat. Danar betul-betul mencintai Aini. Perasaan Danar tulus dari hati. Aini dapat merasakannya.

“Aini, aku mau kamu menjadi istriku,” ujar Danar.

“Mas, tapi aku...”

“Jika memang kamu sakit, aku rela berbagi penyakit itu bersamamu... kamu tidak perlu khawatir... Aku akan terus disisimu,” ujar Danar lagi. Danar sendiri tidak peduli jika dia mungkin telah tertular dari Aini. Dia dan Aini sudah beberapa kali berhubungan badan. Mungkin dia sudah tertular, mungkin juga tidak. Dia tidak mempermasalahkan hal itu.

“Kamu berhak mendapat wanita lain yang lebih baik Mas, kamu punya kehidupan yang lebih baik di luar sana!”

“Aku tidak akan membiarkan kamu menderita sendiri... aku tidak akan mencari wanita lain, percayalah... kamu akan membuatku menderita jika kamu tidak mengizinkan aku bersamamu!”

“Aku juga... perkataan kamu justru bikin aku makin menderita! Kamu pikir aku rela menyeretmu jadi sakit sepertiku... Kamu pikir aku senang kamu berkata seperti itu!?” balas Aini.

“Sudah terlambat Aini, kamu sudah menyeret aku... dan aku gak bisa lepas darimu,” balas Danar. Aini terenyuh terharu. Padahal dia sudah tertular HIV, Danar bahkan sudah mengetahui rahasia gelapnya. Tapi kenapa? Kenapa Danar bersikeras tetap mencintainya??

“Percayalah... kita pasti bisa melalui semua ini bersama... Ai luph yuu...” ujar Danar.

“Udah dibilang... jangan panggil Ai luph yuu.”

Senyum tersungging dari bibir Aini. Air matanya mengalir. Aini menangis bahagia. Dia begitu bahagia memiliki Danar. Aini yang dulu menyesal sudah pindah kost di sini, sekarang justru mensyukurinya.

...Karena dengan pindah ke kost ini, dia dapat bertemu Danar.

***

***

Beberapa minggu kemudian...

“Tuh, Mas Danar... udah terbukti kan gak ada hantunya, kok penakut banget sih??” ledek Aini pada Danar.

“Soalnya masyarakat sekitar bilang hutan ini angker, terutama desa mati ini,” balas Danar garuk-garuk kepala sambil nyengir.

“Itu sih cuma karangan warga sekitar aja, hihihi...”

Aini dengan manja lalu menarik tangan Danar keluar dari rumah menuju tengah jalan. Di luar begitu gelap. Hanya ada cahaya dari api unggun yang berada tepat di depan rumah reot yang mereka pilih sebagai tempat mereka tinggal sementara. Hanya ada mereka berdua di desa mati tak berpenghuni di tengah hutan tersebut. Begitu sunyi. Hanya suara hewan malam dan dedaunan yang tertiup angin yang terdengar.

Aini dan Danar lalu berciuman. Sesekali Aini melepaskan ciumannya, lalu tersenyum pada Danar.

“Kamu cantik banget...” lirih Danar. Aini kembali tersenyum. Manis sekali. Aini lalu memeluk Danar. Perasaan mereka berdua begitu bahagia. Mereka tidak peduli akan segala masalah yang sedang dialami. Yang mereka inginkan sekarang adalah menikmati waktu berdua. Sebelum semuanya berakhir, mereka ingin melakukan apa yang mereka mau. Termasuk mewujudkan fantasi liar Aini yang ingin merasakan tinggal di alam liar. Polos tanpa busana dan terputus dari dunia luar.

“Besok kita balik ya?” tanya Aini.

“Iya... kan katanya pengen coba tinggal satu malam saja,” ujar Danar.

“Tapi kan asik... kita coba tinggal selamanya di sini aja yuk, hihihi...” goda Aini.

“Hahaha... ngaco kamu...”

Aini tertawa. Dia kembali memeluk Danar. Danar yang sudah terangsang dari tadi melihat Aini telanjang bulat langsung mengajak Aini bersetubuh. Dia lalu menggenjot Aini di tengah jalan yang sepi. Udara malam tengah hutan yang dingin tak mampu mengusik mereka. Tidak ada yang bisa mengganggu dua insan tersebut untuk mereguh kenikmatan birahi.

“Shhh... kalau seminggu... ahh... boleh nggak?” tanya Aini lagi.

“Nggak boleh...”

“Yaaahhh....”

“Tapi kalau tiga hari boleh.”

“Yeay!!!” sorak Aini riang.

“Hahaha... Ai luph yuu...”

Kali ini Aini tidak memprotes panggilan Danar itu padanya. Aini tersenyum.

“I love you too...”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Skandal Aini Mahasiswi Kedokteran Universitas Negeri yang Bertoket Montok"

Posting Komentar

close
Pasang Iklan Disini